Latest Update

Indonesia Tidak Boleh Melewatkan Peluang untuk Mencapai Pertumbuhan Dua Digit
October 10, 2014

JAKARTA (09/10) — Indonesia memiliki peluang sekali dalam seabad untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 10 persen dan memberikan pekerjaan layak dengan penghasilan tetap kepada 20 juta keluarga. Peluang ini merupakan hasil dari meningkatnya biaya produksi di Tiongkok, ekportir terdepan dunia untuk barang-barang manufaktur padat karya. Dalam lima tahun ke depan, Negara-negara lain akan mengambil sebagian pangsa pasar ekspor Tiongkok untuk barang-barang tersebut. Indonesia dapat memetik manfaat dari realokasi kapasitas industry ini, karena adanya tenaga kerja yang banyak dan terus bertambah. Dua juta pekerja bergabung dengan angkatan kerja setiap tahunnya, tapi dengan kebijakan yang ada, hanya setengahnya akan menemukan pekerjaan tetap di sektor formal. Indonesia sudah memiliki jutaan pekerja surplus yang ini bekerja di pekerjaan dengan produktivitas rendah pada sektor pertanian dan informal. Jika para pekerja ini dapat dipindahkan ke pekerjaan yang produktif di sektor manufaktur, penghasilan mereka akan meningkat dua kali lipat, sehingga meningkatkan ekspor dan menaikkan pertumbuhan ekonomi sebesar 10 persen.

Dalam buku barunya, “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru,” Dr. Raden Pardede, Profesor Suahasil Nazara, dan saya menguraikan secara rinci kebijakan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan peluang ini. Buku ini diterbitkan oleh the Center for Public Policy Transformation dan tersedia secara gratis di situs web www.transformasi.org.

Kami memperhitungkan ekspor barang jadi Indonesia akan meningkat sebesar 110 miliar dollar AS selama lima tahun ke depan, apabila negara kita berhasil mengambil 7 persen saja dari pasar Tiongkok pada tahun 2012 untuk ekspor padat karya. Pertumbuhan ekspor dan industri barang substitusi impor, digabung dengan efek pengganda dari permintaan dalam negeri yang meningkat, akan menciptakan 21 juta lapangan pekerjaan layak dan produktif di akhir masa jabatan presiden pada tahun 2019. Banyak dari pekerjaan ini akan diambil orang berpendidikan rendah, sehingga menaikkan penghasilan mereka, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan distribusi penghasilan.

Indonesia harus mengurangi biaya-biaya apabila ingin bersaing dengan negara lain yang juga ingin mengambil alih pasar ekspor Tiongkok. Faktor penyebab utama tingginya biaya-biaya di Indonesia adalah infrastruktur yang tidak memadai, sebagai akibat dari investasi yang tidak memadai. Meningkatkan investasi dalam bidang infrastruktur sebesar 10 kali lipat akan membutuhkan keputusan yang segera dan berani untuk mengurangi subsidi BBM, agar pemerintah memiliki sumber daya tambahan dalam dua tahun ke depan. Reformasi pajak dapat menghasilkan pendapatan tambahan setelah itu. Dengan memfokuskan investasi baru di wilayah yang telah berhasil menarik investasi ke dalam sektor manufaktur, Indonesia dapat memperoleh pengembalian investasi yang cepat dan besar, sehingga dapat digunakan untuk membiayai infrastruktur di tempat lain.

Perluasan yang dibutuhkan, seperti peningkatan tenaga listrik sebesar 140 persen, juga memerlukan metode kreatif dalam menarik modal dan keahlian swasta ke dalam investasi di bidang infrastruktur. Kontrak bagi hasil, sebuah inovasi dari Indonesia, menciptakan insentif agar sektor swasta terlibat di dalam industri minyak yang dikendalikan publik. Model ini dapat digunakan dalam membangun dan mengoperasikan beberapa infrastruktur publik. Sebuah program dana pendamping dapat merangsang pemerintah daerah untuk mengarahkan sumber dana dari urusan administrasi dan ke dalam bidang infrastruktur.

Indonesia juga harus mengurangi ongkos pekerja bagi perusahaan yang berkompetisi di pasar dunia, sekaligus meningkatkan penghasilan pekerja. Devaluasi rupiah merupakan cara yang paling ampuh untuk mengurangi ongkos pekerja dan biaya domestik lainnya bagi eksportir dan perusahaan lain yang berkompetisi dengan impor. Dampak inflasi dapat diminimalisir dengan menstabilkan harga makanan yang penting bagi 40 persen penduduk termiskin di Indonesia. Di dalam buku ini, kami merekomendasikan serangkaian langkah-langkah praktis lainnya untuk mengurangi ongkos pekerja tanpa mengurangi penghasilan mereka.

Indonesia menempati peringkat yang buruk dalam hal korupsi, kemudahan melakukan usaha, dan biaya peminjaman. Negara ini dapat mengurangi biaya dengan cepat dengan memberantas korupsi dan menghapus hambatan birokrasi untuk memulai usaha. Menguragi diskresi birokrat dan meningkatkan transparansi akan membantu mengatasi kedua masalah tersebut.

Sebagian masyarakat Indonesia berharap ledakan komoditas akan datang lagi, agar terbebas dari keharusan untuk menghadapi pilihan ekonomi yang sulit. Menurut kami, hal tersebut akan sangat sulit terjadi. Apabila Indonesia tidak meningkatkan daya saingnya dalam sektor manufaktur padat karya, pendapatan ekspor akan menjadi stagnan, permintaan dalam negeri akan melemah seiring melambatnya pertumbuhan, dan pekerja Indonesia akan terus terpaksa mencari pekerjaan di luar negeri.

Pemerintah baru menghadapi sebuah pilihan: mengubah pekerja surplus Indonesia menjadi mesin pertumbuhan dan kemakmuran; atau mengikuti arus ekonomi nasional yang bertumbuh dengan lambat, yang semakin bergantung pada aliran modal jangka pendek.

Indonesia telah menunjukkan dapat bangkit mengatasi tantangan. Pada tahun 1980an, pemerintah berhasil merespon berakhirnya ledakan harga minyak (oil boom). Devaluasi rupiah, mendorong investasi luar negeri, dan melonggarkan pembatasan impor yang dibutuhkan oleh eksportir memicu ledakan ekspor yang berhasil mengangkat jutaan rumah tangga dari jurang kemiskinan. Meningkatnya biaya di Tiongkok telah membuka kembali peluang untuk mengalami pertumbuhan berbasis ekspor. Sekarang kita serahkan kepada pemerintah yang baru untuk memanfaatkan peluang luar biasa ini.

Gustav F Papanek adalah Profesor Emeritus Bidang Ekonomi di Universitas Boston dan presiden dari the Boston Institute for Developing Economies. Ia telah berkolaborasi dengan pakar ekonomi Indonesia sejak tahun 1962.

www.transformasi.org

back
 
Copyright © 2011 Rajawali Foundation